Konservasi

PDFCetakE-mail

Identifikasi Fauna/Satwa Liar

Dalam aspek pengelolaan lingkungan, unit manajemen PT. Indexim Utama (IU) telah menetapkan beberapa areal sebagai kawasan lindung (KPPN, Sempadan sungai dll). Dalam rangka perlindungan terhadap fauna/satwa liar dilindungi telah dilakukan kegiatan inventarisasi atau pendataan yang lokasi kegiatannya dilaksanakan di areal blok RKT 2012 (virgin forest) dan blok RKT 2009 (LOA). Seperti yang kita ketahui bersama bahwa makhluk hidup tidak selalu mempunyai kerapatan (density) yang sama dalam ruang dan waktu.  Ada jenis yang pada suatu saat tersebar luas dengan kerapatan yang tinggi, tetapi pada saat yang lain menciut dan sulit dijumpai.  Adanya fenomena ini membuat makhluk hidup bersifat endemik (tersebar jarang) dan menjadi relik (tersisa).

jejak

Gambar Gips Jejak Rusa

Jenis satwa yang termasuk status dilindungi berdasarkan PP No 7 Tahun 1999 adalah sebanyak 19 jenis, sedangkan berdasarkan status kelangkaan IUCN Red List ditemukan sebanyak 5 jenis dengan kategori Terancam atau genting -EN (endangered), 8 jenis kategori rentan VU (Vulnerable), 4 jenis, kategori terancam punah CR (Critycally Riks endangered), sebanyak 5 jenis Resiko Rendah LR (Lower Risk). Beberapa jenis ada yang belum teridentifikasi karena kekurangan data  DD (Data defecient) sebanyak 9 jenis. Berdasarkan IUCN ada 5 jenis Apendiks I, 25 jenis Apendiks II dan 2 jenis Termasuk Apendiks III. Pada areal blok RKT 2012 (Virgin forest) populasi fauna/satwa berjumlah 795 ekor jumlahnya lebih banyak bila dibandingkan di areal blok RKT 2009 (LOA) 621 ekor.

Kubangan babi

Gambar Kubangan Babi

 

 

Laju Tingkat Erosi

1. Nilai T (Tolarable soil erosion)

Nilai T (Tolarable Soil Erosion) adalah nilai laju erosi yang diperbolehkan per tahun. Nilai T (Tolarable Soil Erosion) perlu diketahui terlebih dahulu untuk mengetahui kelas kategori erosi pada semua lokasi pengukuran laju erosi.

Hasil penelusuran data sekunder diketahui bahwa jenis tanah yang dijadikan lokasi penelitian di PT. Indexim Utama adalah jenis tanah podsolik merah kuning. Kedalaman tanah efektif adalah kedalaman tanah yang diukur dimulai dari permukaan tanah hingga akar tanaman bisa menembus tanah terdalam. Jenis tanah podsolik merah kuning memiliki kedalaman tanah efektif sedalam 180 cm. Kemudian data berikutnya yang diperlukan untuk menentukan nilai T antara lain kedalaman tanah minimum, umur pakai tanah, dan laju pembentukan tanah. Menurut Purwowidodo (1999) kedalaman tanah minimum pada jenis-jenis tumbuhan kehutanan adalah 7,5 cm, umur pakai tanah dan laju pembentukan pada jenis tanah podsolik merah kuning adalah 29.000 tahun dan 97 tahun.

Tabel Nilai T

Jenis Tanah

Kedalaman Tanah Setara

Kedalaman Tanah Efektif

Umur Pakai Tanah

Laju Pembentukan Tanah

Nilai T (Ton/Ha/Th)

Podsolik Merah Kuning

180 cm

7,5 cm

29.000 th

97 th

97,006

Berdasarkan Tabel diatas, diketahui bahwa nilai T (Tolarable soil erosion) pada areal PT. Indexim Utama adalah sebesar 97,006 ton/ha/tahun. Hal ini dapat dijadikan informasi jika disuatu lokasi pengukuran erosi memiliki laju erosi bernilai kurang dari 97,006 ton/ha/tahun, maka lokasi pengukuran erosi tersebut tidak diperlukan suatu tindakan konservasi tanah. Laju erosi yang terjadi pada plot pengamatan lebih besar dari nilai T, maka diperlukan suatu tindakan konservasi tanah.

2. Laju Erosi

Pengukuran laju erosi pada PT. Indexim Utama dilakukan dengan menggunakan metode bak erosi. Metode bak erosi memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengukuran metode tongkat erosi, namun untuk membuat satu bak erosi diperlukan investasi yang lebih besar jika dibandingkan dengan metode tongkat.

bak erosi

Pengukuran laju erosi dengan menggunakan metode bak erosi dilakukan pada tiga tempat, antara lain blok RKT 2008 TPTI, blok RKT 2009 TPTI di jalan sarad dan blok RKT 2010 (untuk RKT 2010 ada dua unit bak erosi dengan tingkat kelerengan berbeda).

Jalan sarad diasumsikan dapat mewakili kegiatan pemanenan, karena jalan sarad merupakan salah satu penghubung antara kegiatan penebangan dengan TPN. Untuk mengetahui keadaan diluar jalan sarad, maka dilakukan pengukuran di beberapa blok tebangan dengan tahun tebang yang berbeda. Hal ini dilakukan untuk dapat mengetahui perbedaan besar erosi yang disebabkan oleh perbedaan lama waktu tebang, dengan asumsi blok tebang RKT 2008 dan RKT 2009 jalan saradnya telah tertutup oleh permudaan alam. Pengukuran erosi di kawasan ini dilakukan sebagai kontrol dari tegakan-tegakan hutan lainnya yang sedang atau telah dilakukan kegiatan pemanenan kayu.

a. Laju Erosi di RKT 2008 TPTI

Pada RKT 2008 TPTI dilakukan dengan menggunakan metode bak erosi. Pengukuran metode bak erosi dilakukan di areal ini adalah untuk membandingkan antara yang lama dan baru ditinggalkan setelah kegiatan pemanenan kayu RKT 2008 kondisi jalan saradnya sudah tertutup dengan anakan alam/permudaan alam.

Hasil metode bak erosi menunjukkan bahwa laju erosi di RKT 2008 TPTI sebesar 17,60 ton/ha/tahun masih berada dibawah ambang batas toleransi erosi yang diperbolehkan. Sedangkan dengan menggunakan perhitungan dengan rumus konversi berat diketahui laju erosi sebesar 13,96 ton/ha/tahun, dimana tingkat kelerengannya sebesar 8 – 15 %. Lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran. Dari hasil tersebut diketahui bahwa berdasarkan indeks bahaya erosi (IBE) RKT 2008 TPTI masuk ke dalam kategori erosi rendah. Berdasarkan kelas bahaya erosi (KBE) RKT 2008 TPTI masuk ke dalam kategori ringan.

Untuk mengetahui lebih jauh laju erosi yang terjadi, dapat dilakukan dengan mengukur besar sedimen di sungai Naon dan sungai Luang, yang letaknya melewati dan atau berdekatan.

b. Laju Erosi di RKT 2009 TPTI

Pada RKT 2009 dilakukan dengan menggunakan metode bak erosi. Pengukuran metode bak erosi dilakukan di areal ini adalah untuk membandingkan antara yang lama dan baru ditinggalkan setelah kegiatan pemanenan kayu, sama halnya dengan RKT 2008.

Hasil metode bak erosi menunjukkan bahwa laju erosi di RKT 2009 dengan penerapan sistem RIL diketahui tingka laju erosi sebesar 26,19 ton/ha/tahun masih berada dibawah ambang batas toleransi erosi yang diperbolehkan. Sedangkan dengan menggunakan perhitungan rumus konversi berat diketahui laju erosi sebesar 16,49 ton/ha/tahun, dimana tingkat kelerengannya sebesar 8 – 15 %.

Dari hasil tersebut diketahui bahwa laju erosi pada RKT 2009 TPTI berada dibawah ambang batas toleransi erosi yang diperbolehkan, yaitu 97,006 ton/ha/tahun. Berdasarkan indeks bahaya erosi (IBE) RKT 2009 TPTI masuk ke dalam kategori rendah, sedangkan berdasarkan kelas bahaya erosi (KBE) RKT 2009 TPTI masuk ke dalam kategori ringan.

Untuk mengetahui lebih jauh laju erosi yang terjadi, dapat dilakukan pengukuran sedimen pada sungai Naon.

c. Laju Erosi di RKT 2010 TPTI

Pada RKT 2010 dilakukan dengan menggunakan metode bak erosi. Pengukuran metode bak erosi dilakukan di areal ini adalah untuk membandingkan antara tingkat kelerengan yang berbeda 8-15% dan 15-25 % juga perbandingan dengan blok tebang RKT yang lama dan RKT baru ditinggalkan setelah kegiatan pemanenan kayu.

Hasil metode bak erosi menunjukkan bahwa laju erosi di RKT 2010 dengan penerapan sistem RIL diketahui tingka laju erosi sebesar 42,72 ton/ha/tahun masih berada dibawah ambang batas toleransi erosi yang diperbolehkan. Sedangkan dengan menggunakan perhitungan rumus konversi berat diketahui laju erosi sebesar 20,19 ton/ha/tahun, dimana tingkat kelerengannya sebesar 15-25 %. Sedangkan untuk kelerengan 8 – 15% diketahui tingka laju erosi sebesar 38,76 ton/ha/tahun masih berada dibawah ambang batas toleransi erosi yang diperbolehkan. Sedangkan dengan menggunakan perhitungan rumus konversi berat diketahui laju erosi sebesar 19,57 ton/ha/tahun.

Dari hasil tersebut diketahui bahwa laju erosi pada RKT 2010 TPTI berada dibawah ambang batas toleransi erosi yang diperbolehkan, yaitu 97,006 ton/ha/tahun. Berdasarkan indeks bahaya erosi (IBE) RKT 2010 TPTI masuk ke dalam kategori rendah, sedangkan berdasarkan kelas bahaya erosi (KBE) RKT 2010 TPTI masuk ke dalam kategori ringan.

Untuk mengetahui lebih jauh laju erosi yang terjadi, dapat dilakukan dengan mengukur besar sedimen di sungai Naon dan sungai Kemensi, yang letaknya melalui lokasi tersebut.

3. Faktor yang Mempengaruhi Laju Erosi

a. Curah hujan

Secara langsung, hujan dengan intensitas yang tinggi dapat berpengaruh sangat nyata akan terjadinya proses erosi tanah. Menurut Arsyad (2000), ada tiga komponen karakteristik hujan yang berpengaruh terhadap erosi yaitu jumlah, intensitas dan distribusi hujan, lebih jelas dapat di lihat dalam laporan SPH tahun 2012.

PT. Indexim Utama mempunyai intensitas curah hujan yang tinggi dengan persebaran yang hampir merata sepanjang tahun, artinya tidak terjadi musim kemarau atau bulan kering yang panjang. Jumlah hari hujan rata-rata bulanan terjadi dalam bulan Desember dan terendah pada bulan Juni. Maka dari itu, pengukuran curah hujan yang dilakukan pada bulan Juli hingga September tidak begitu besar curah hujannya.

b. Vegetasi

Selain curah hujan, penutupan berupa vegetasi juga sangat berpengaruh terhadap laju erosi. Jenis penutupan vegetasi yang mendominasi di PT. Indexim Utama adalah hutan alam dengan strata yang berlapis-lapis. Laju erosi yang berada di kawasan lindung adalah suatu contoh nyata bahwa hutan alam dapat meminimalisir laju erosi.

Saat terjadi hujan, suatu lahan yang tidak dilindungi oleh vegetasi dapat dengan sangat mudah tererosi. Menurut Rahim (2003), erosi bisa terjadi apabila intensitas hujan turun lebih tinggi dibanding kemampuan tanah untuk menyerap air hujan tersebut. Terjadinya erosi secara rinci bisa dijelaskan melalui tiga tahapan. Pertama, penghancuran agregat tanah dan pelepasan partikel. Kedua, pengangkutan tanah oleh aliran air. Ketiga, pengendapan tanah akibat aliran air tidak mampu lagi mengangkut tanah.

Berdasarkan hasil penelitian Holy (1980) dalam Santosa (1985) mengemukakan bahwa hutan dengan tajuk lebat, tumbuhan bawah yang baik, dan serasah yang tidak terganggu sangat mempengaruhi terjadinya aliran permukaan dan erosi. Pada keadaan hutan seperti itu aliran permukaan tidak lebih dari 10% dari total hujan dan tidak terjadi erosi.

c. Topografi

Selain curah hujan dan vegetasi, faktor kelerengan juga sangat nyata mempengaruhi proses terjadinya erosi. Menurut Arsyad (2000), faktor-faktor topografi yang mempengaruhi besar kecilnya erosi dan limpasan permukaan ialah derajat kemiringan lereng lapangan dan panjang lereng, dengan kata lain erosi dan limpasan permukaan akan lebih besar pada tanah dengan lereng yang lebih curam dan lebih panjang. Dengan demikian, derajat kemiringan dan panjang lereng merupakan dua faktor topografi yang mempunyai peranan yang sangat penting terhadap kemungkinan terjadinya erosi. Erosi tidak menjadi masalah pada daerah datar, akan tetapi apabila daerah mulai miring maka masalah pencegahan erosi menjadi serius.

PT. Indexim Utama memiliki kemiringan lereng lapangan yang cenderung landai. Areal yang memiliki kelerengan lebih besar dari(9 – 15%) hanya sekitar 28.522 ha atau 54,35 % dari jumlah luasan PT. Indexim Utama. Namun kemiringan lereng pada RKT 2010 TPTI dinilai memiliki lereng yang besar dan panjang. Hal inilah yang menyebabkan laju erosi di RKT 2010 TPTI menjadi yang tertinggi di bandingkan RKT 2008 dan 2009 pada metode pengukuran erosi dengan menggunakan bak erosi.

Dilihat dari segi kelas kelerengan, kelas lereng 8%-15% memiliki laju erosi terbesar, kemudian semakin menurun pada kelas kelerengan 15% sampai diatas 40% dan laju erosi terendah adalah kelas kelerengan 0%-8%. Keragaman nilai diantara masing-masing kelas lereng disebabkan oleh panjang dan bentuk lereng pada setiap lokasi pengamatan. PT. Indexim Utama banyak terdapat kelas kelerengan 9%-15%, yaitu sebesar 28.522 ha atau 54,35% dari luas PT. Indexim Utama.

d. Tanah

Menurut Sjafi’i (1984), sifat tanah yang penting pengaruhnya terhadap permukaan erosi terhadap kepekaan erosi dan limpasan permukaan adalah tekstur, struktur, kandungan bahan organik, kesarangan, kapasitas lapang, tebal dan sifat horizon serta kadar air tanah.

Namun pada kegiatan di lapangan hanya beberapa sifat tanah yang diperhatikan. Lokasi pengamatan erosi di lapangan umumnya didominasi oleh jenis tanah ultisol. Jenis tanah ultisol memiliki kedalaman tanah yang efektif sedalam 180 cm dengan nilai laju erosi yang diperbolehkan sebesar 97,006 ton/ha/tahun. Melihat nilai laju erosi yang diperbolehkan pada jenis tanah podsolik cukup kecil, maka tanah ultisol di kawasan PT. Indexim Utama dapat dikatakan rawan fisik atau memiliki tanah yang rawan akan erosi.

e. Manusia

Menurut Anonim (1983), tingkat kerusakan tanah hutan ditentukan oleh:

1. Cara dan alat eksploitasi yang digunakan.

2. Sistem penanaman.

3. Perusakan oleh penggembalaan, pencarian kayu bakar, kebakaran, dan lain lain.

Kerusakan tanah hutan PT. Indexim Utama umumnya disebabkan oleh kegiatan pemanenan kayu. Pemanenan kayu idealnya dilakukan dengan berbagai perencanaan yang matang, dimulai dari peta pohon, perencanaan jalan sarad, dan lain-lain. Peta pohon berguna dalam menentukan pohon yang sudah layak tebang, sehingga tidak terjadi kesalahan pemilihan pohon yang akan ditebang. Sedangkan perencanaan jalan sarad dibuat untuk meminimalisir kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan penyaradan dan memudahkan kegiatan penyaradan. Fakta di lapangan di PT. Indexim Utama hal ini baru saja dilakukan, pada areal lokasi yang telah dipanen memiliki keterbukaan sebesar 5,48 % atau seluas 547,99 % m²/plot dengan panjang rata-rata 110,21 m/ha. Sedangkan rata-rata keseluruhan petak tebangan luas keterbukaan sebesar 3,53 ha per petak dengan persentase 4,52 % (Rohim. A, 2011).

Penebangan pohon sangat berpengaruh nyata terhadap keterbukaan lahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan Sukanda (1996), bahwa peranan faktor jumlah pohon yang ditebang berpengaruh nyata terhadap keterbukaan lahan. Semakin banyak pohon yang ditebang per satuan luas semakin luas pula keterbukaan tanah yang terjadi. Dengan demikian semakin banyak pohon yang ditebang semakin tinggi pula intensitas penyaradan yang mengakibatkan keterbukaan lahan semakin luas.

f. Strategi Penanggulangan Laju Erosi

Dalam rangka menanggulangi laju erosi, sudah banyak cara yang dipakai dan efektif untuk menanggulangi erosi yang terjadi. Namun sebelum menanggulangi erosi yang terjadi, ada beberapa faktor yang telah diketahui dapat memperbesar erosi di PT. Indexim Utama, yaitu belum adanya perencanaan yang matang. Faktor lainnya adalah tidak ada kehati-hatian pada saat proses penyaradan. Selain kedua faktor tersebut, tidak adanya proses monitoring setelah kegiatan pemanenan selesai juga memiliki andil yang cukup besar dalam proses terjadinya laju erosi.

Untuk menanggulangi laju erosi di PT. Indexim Utama, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu membuat peta pohon, perencanaan pembuatan jalan sarad, kemudian setelah kegiatan penyaradan selesai secepat mungkin melakukan proses perawatan hutan berupa crossdrain dan covercrop. Selain itu, operator traktor sebaiknya lebih berhati-hati dan menghindari areal yang curam saat melakukan kegiatan penyaradan. Selain sulit untuk melakukan kegiatan penyaradan, menyarad di areal yang curam juga dapat menyebabkan erosi bertambah besar.

Peta pohon dibuat dengan tujuan mengetahui secara pasti posisi pohon yang akan ditebang sehingga dapat dibuat perencanaan penaggulangan erosi. Dengan membuat peta pohon maka keterbukaan yang dihasilkan akan optimum sehingga laju erosi juga akan semakin mudah untuk dikendalikan. Selain peta pohon, tidak lupa teknik penebangan kayu juga seharusnya lebih disempurnakan karena pemanenan kayu yang benar dapat memperkecil dampak yang dihasilkan. Setelah peta pohon diketahui, maka perencanaan jalan sarad dibuat. Selain untuk memudahkan proses penyaradan perencanaan jalan sarad juga dapat meminimalisir areal yang terbuka akibat proses penyaradan sehingga laju erosi dapat berkurang.

Perawatan hutan dalam menanggulangi laju erosi dapat mengkombinasikan antara membuat crossdrain dengan covercrop. Dengan membuat crossdrain maka erosi yang disebabkan oleh faktor kelerengan dapat diperkecil. Berdasarkan pengukuran metode bak erosi yang telah dilakukan terbukti bahwa crossdrain dan covercrop dapat menurunkan laju erosi. Crossdrain dibuat berupa tanggul-tanggul di bekas jalan sarad setelah kegiatan penyaradan selesai dengan jarak tertentu. Hal ini dilakukan untuk mencegah laju erosi yang lebih besar setelah kegiatan pemanenan berakhir. Dapat dikatakan crossdrain (sudetan) yang ada di PT. Indexim Utama sudah efektif, karena menurut Winderiaty (2008) crossdrain dapat menurunkan laju erosi sebesar 85,93% dari laju erosi tanpa crossdrain.

tinggi muka air sedimentrap pengendali tebing

Gambar Pengukuran Tinggi Muka Air               Gambar Sedimentrap                          Gambar Bangunan Pengendali Tebing

indexim-map_resize.jpg
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday25
mod_vvisit_counterYesterday150
mod_vvisit_counterThis week210
mod_vvisit_counterLast week467
mod_vvisit_counterThis month938
mod_vvisit_counterLast month330
mod_vvisit_counterAll days1293573

We have: 12 guests online
Your IP: 35.173.47.43
 , 
Today: Sep 18, 2019