Konservasi

PDFCetakE-mail

Identifikasi Fauna/Satwa Liar

Dalam aspek pengelolaan lingkungan, unit manajemen PT. Indexim Utama (IU) telah menetapkan beberapa areal sebagai kawasan lindung (KPPN, Sempadan sungai dll). Dalam rangka perlindungan terhadap fauna/satwa liar dilindungi telah dilakukan kegiatan inventarisasi atau pendataan yang lokasi kegiatannya dilaksanakan di areal KPPN,Buffer Zone Hutan lindung Gunung Lumut, Areal Sempadan Sungai Malio, Sungai Mea, Sungai Luang, Sungai Teweh dan juga pada areal produksi Blok RKT. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa makhluk hidup tidak selalu mempunyai kerapatan (density) yang sama dalam ruang dan waktu.  Ada jenis yang pada suatu saat tersebar luas dengan kerapatan yang tinggi, tetapi pada saat yang lain menciut dan sulit dijumpai.  Adanya fenomena ini membuat makhluk hidup bersifat endemik (tersebar jarang) dan menjadi relik (tersisa).

jejak

Gambar Gips Jejak Rusa

Jenis satwa yang termasuk status dilindungi berdasarkan PP No 7 Tahun 1999 adalah sebanyak 19 jenis, sedangkan berdasarkan status kelangkaan IUCN Red List ditemukan sebanyak 5 jenis dengan kategori Terancam atau genting -EN (endangered), 8 jenis kategori rentan VU (Vulnerable), 4 jenis, kategori terancam punah CR (Critycally Riks endangered), sebanyak 5 jenis Resiko Rendah LR (Lower Risk). Beberapa jenis ada yang belum teridentifikasi karena kekurangan data  DD (Data defecient) sebanyak 9 jenis. Berdasarkan IUCN ada 5 jenis Apendiks I, 25 jenis Apendiks II dan 2 jenis Termasuk Apendiks III. Pada areal blok RKT 2012 (Virgin forest) populasi fauna/satwa berjumlah 795 ekor jumlahnya lebih banyak bila dibandingkan di areal blok RKT 2009 (LOA) 621 ekor.

Berdasarkan data rekapitulasi hasil indentifikasi fauna tersebut bahwa di areal  KPPN, Sempadan Sungai, RKT blok Tebang  pada tahun 2022  ditemukan keragaman/kekayaan jenis fauna sebanyak 34 jenis dengan jumlah seluruhnya sekitar rata-rata 309 individu.  Adapun jenis yang terbanyak ditemui terdapat pada klass aves sebanyak 15 jenis dan mamalia sebanyak 12 jenis dan khusus untuk reptilian /melata ditahun 2022 ditemukan 7 jenis.

Bila dibandingkan dengan data pengamatan fauna dari tahun 2015  sampai dengan tahun 2022 lebih jelas tersaji dalam grafik berikut ini:

 

Gambar 1. Grafik Time Series Aves

Gambar 2. Grafik Time Series Mamalia

Gambar 3. Grafik Time Series Primata

Gambar 4. Grafik Time Series Reptilia

Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui perubahan jumlah temuan individu fauna yang ada pada areal KPPN.  Hal ini disebabkan secara umum adalah karena satwa tersebut aktif dan selalu bergerak serta beberapa satwa memiliki daya jelajah yang luas dam mencari makanan serta tempat tinggal.  Faktor musim dan cuaca juga berpengaruh terhadap perilaku satwa, hal ini sangat mempengaruhi jumlah temuaan dalam pengamatan.

Hasil analisa data pada pada setiap jalur pengamatan dari jalur 1 sampai jalur 10 diperoleh indeks keragaman jenis(H’) berkisar antara H’ = 2,61 sampai 2,91 dan untuk indeks kemerataan (E) berkisar 0,93 sampai 1,01; dan selanjutnya untuk indeks kekayaan jenis( d ) berkisar antara d= 2,56 sampai 2,99.

Jenis-jenis yang teridentifikasi dari hasil pengamatan di kawasan pelestarian merupakan jenis-jenis yang mendominasi dan tersebar merata hampir di seluruh kawasan PBPH PT. Indexim Utama.  Keterwakilan ini merupakan syarat yang sangat mutlak untuk pengelolaan, penelitian dan pengembangan dimana kita ketahui bersama bahwa areal KPPN ini berbatasan langsung dengan Buffer Zone kaki Gunung Lumut.

Pengamatan yang telah dilaksanakan menujukan bahwa peredaran dan penyebaran satwa sulit kita ketahui, tapi paling tidak kita masih bisa menemukan dan melihat mereka secara langsung pada lokasi pengamatan, apalagi bila saat pengamatan kita menemukan beberapa pohon yang berbuah yang merupakan pakan satwa maka ada banyak satwa yang berhasil terekam.  Seperti yang kita ketahui bersama bahwa makhluk hidup tidak selalu mempunyai kerapatan (density) yang sama dalam ruang dan waktu.  Ada jenis yang pada suatu saat tersebar luas dengan kerapatan yang tinggi, tetapi pada saat yang lain menciut dan sulit dijumpai.  Adanya fenomena ini membuat makhluk hidup bersifat endemik (tersebar jarang) dan menjadi relik (tersisa).  Jenis yang tersebar jarang secara alami tidak mempunyai populasi dengan kerapatan yang tinggi.  Penyebaran terbatas, kejarangan berbiak, persaingan antar individu, tekanan dari ulah manusia dan sebab-sebab alami lainnya serta sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya yang menyebabkan kelangkaan.  Disamping itu, tiap jenis makhluk hidup mempunyai rentang kehidupan (life span) yang membatasi proses hidup masing-masing karakteristiknya (Anonymous, 1992).

Status Konservasi Jenis satwa yang termasuk status dilindungi berdasarkan Permen LHK No 106 Tahun 2018 adalah sebanyak 19 jenis, sedangkan berdasarkan status kelangkaan IUCN Red List ditemukan sebanyak 6  jenis dengan kategori Terancam  atau genting -EN (endangered), 8 jenis kategori rentan VU (Vulnerable), tidak ditemukan jenis jenis, kategori terancam punah CR (Critycally Riks endangered), sebanyak 8 jenis Resiko Rendah LR (Lower Risk). Beberapa jenis ada yang belum teridentifikasi karena kekurangan data  DD (Data defecient) sebanyak 10 jenis, sedangkan berdasarkan IUCN ada 3 jenis Apendiks I, 26 jenis Apendiks II dan 1 jenis Termasuk Apendiks III.

 

Pengelolaan Fauna/Satwa

Pelaksanaan pengelolaan fauna/satwa pada Unit manajemen PT. Indexim Utama dilakukan setelah ada hasil identifikasi terhadap satwa yang harus dilindungi karena keberadaannya (jarang, langka, dan terancam punah). Pelaksanaan kegiatan pengelolaan fauna/satwa melalui :

1. Penandaan  flora/tumbuhan sebagai pohon  pakan, tempat sarang/habitat satwa dan atau yang  dilindungi dan perlindungan terhadap satwa karena jarang, langka, terancam, penyebaran terbatas dan dilindungi di lapangan, sesuai dengan hasil identifikasi  dengan status konservasi IUCN, CITES dan Permen LHK No 106 Tahun 2018 terdapat:

a.  Pohon dilindungi untuk kepentingan pakan dan sarang/habitat satwa :

-  Durian hutan layung

-  Rambutan hutan

-  Manggis hutan

-  Cempedak hutan

-  Meranti

-  Resak

-  Pohon Beringin

-  Kapur

-  Balau

b.  Pohon dilindungi untuk hasil karena jarang dan khas setempat :

-  Langsat hutan

-  Gaharu Gunung

c.  Tumbuhan Bawah

-  Anggrek dan sejenisnya

Pengelolaannya dengan memberi tanda label kuning dan cat warna kuning pada pohon dilindungi baik dalam kegiatan ITSP, PPB, dan Kegiatan Identifikasi flora pada kawasan lindung dan areal non-prodiktif ( Areal PUP dan Tegakan Benih )

 

2. Satwa dilindungi karena status konservasi berdasarkan CITES, IUCN dan Permen LHK No 106 Tahun 2019:

Aves (Burung)

Berdasarkan Laporan HCVF PT. Indexim Utama selama pengamatan, ditemukan 174 spesies burung dan 68 diantaranya tergolong penting, yaitu terdapat 36 spesies yang kategori Near Threatened (NT, hampir terancam punah), 8 spesies Vulnerable (VU, rentan) dalam daftar IUCN, 2 spesies Appendix I dan 23 spesies Appendix II dalam daftar CITES,dan 45 spesies  jenis dilindungi pemerintah (melalui PP No. 106 Tahun 2018), 3 spesies jenis endemik Kalimantan, dan 13 spesies jenis-jenis migran

Aves (Burung)

-          Elang*

-          Burung Hantu*

-          Alap-alap*

-          Kuau Raja

-          Rangkong*

-          Gelatik

-          Kucicaekorkuning*

-          Kukukbeluk

-          Sempidankalimatan

-          Tiung/Beo

-          Serindit

-          Burung Madu *

-          Cekakak *

-          Kadalanberuang

-          Burung Ekor kipas

-          Kuntulkarang*

-          Lunturputri

-          Paokhijau

-          Berencetkalimantan *

-          Pijantung

(*kerabat)

 

Mamalia

Berdasarkan identifikasi terdapat 44 spesies mamalia yang ditemukan dalam wilayah PT. Indexim Utama, dimana 28 diataranya tergolong memiliki nilai konservasi sangat penting.  Dalam daftar IUCN ditemukan 2 spesies tergolong terancam (EN), 5 spesies tergolong rentan (VU).   Dalam daftar CITES 5 spesies termasuk Appendix I, 12 spesies termasuk Appendix II dan 18 spesies dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999

Mamalia

-     Macan dahan

-     Trenggiling

-     Owa-owa

-     Bekantan

-     Kubung

-     Kukang

-     Lutung*

-     Bajing terbang

-     Landak

-     Beruang Madu

-     Pelanduk Kancil

-     Kijang*

-     Rusa

 

Reptil dan Amphibi

Hasil dari Identifikasi di dalam areal PT. Indexim Utama, satwa yang tergolong dalam   daftar CITES, terdapat  3 spesies Appendix II.  Dalam daftar IUCN, 1 spesies kategory terancam (EN) dan menurut Permen LHK No 106 Tahun 2019 terdapat 3 spesies.

Reptil

-          Biawak

-          Kura-kura gading

-          Ular sanca.

3.  Perlindungan pengamanan hutan

- Pemasangan informasi jenis satwa dilindungi yang jarang, langka, dan terancam punah, serta endemik

- Pemasangan papan himbauan perlindungan satwa pada tempat-tempat yang strategis

-  Patroli pengamanan hutan khususnya upaya perlindungan terhadap pengelolaan satwa dilindungi

4.  Penyuluhan konservasi sumberdaya hutan

-  Sosialisasi tentang keberadaan jenis satwa dilindungi dan upaya pengelolaan/ perlindungan di internal manajemen

-  Penyuluhan tentang keberadaan satwa dan upaya pengelolaan/ perlindungan di lingkungan masyarakat desa sekitar hutan.

 

Kubangan babi

Gambar Kubangan Babi

Jejak Burung Kuau Raja


Laju Tingkat Erosi

Nilai T, Indeks Bahaya Erosi, dan Tingkat Bahaya Erosi

Nilai T (Tolarable soil erosion) adalah suatu nilai untuk menunjukan laju erosi tanah yang boleh terjadi pada sebidang lahan. Nilai T ini dapat digunakan sebagai landasan untuk menetapkan perlu atau tidaknya dilakukan konservasi tanah disuatu lahan yang bermasalah. Nilai T yang lebih kecil daripada laju pembentukan tanahnya tidak mengharuskan dilakukan tindakan konservasi dan kalau dilakukan tindakan konservasi tanah diarahkan menggunakan teknik-teknik sederhana dan berintensitas rendah. Sedangkan nilai T yang lebih besar dari pada laju pembentukan tanahnya mengharuskan dilakukannya tindakan konservasi tanah.

Nilai IBE (Indeks Bahaya Erosi) berguna untuk mengetahui seberapa besar laju erosi yang terjadi akan membahayakan kelestarian keproduktifan tanah yang bersangkutan.

Tabel 1. Indeks Bahaya Erosi

Indeks Bahaya Erosi

Kelas

< 1,00

Rendah

1,01 – 4,00

Sedang

4,01 – 10,00

Tinggi

>10,00

Sangat Tinggi

 

Sedangkan TBE (Tingkat Bahaya Erosi) ditetapkan berdasarkan telaah terhadap gatra laju erosi tanah dan ketebalan solum tanah yang bersangkutan.

Tabel 2. Kelas bahaya Erosi

Tebal Solum (cm)

Kelas Bahaya Erosi

I

II

III

IV

V

Laju erosi tanah (ton/ha/th)

<15

15 - 59

60 - 179

180 - 480

> 480

Tebal (>90)

SR

R

S

B

SB

Sedang (60-90)

R

SB

B

SB

SB

Tipis (30-60)

SR

B

SB

SB

SB

Sangat tipis (<30)

B

SB

SB

SB

SB

* SR = Sangat ringan, R = Ringan, S = Sedang, B = Berat, dan SB = Sangat Berat

 

1. Nilai T (Tolarable soil erosion)

Nilai T (Tolarable Soil Erosion) adalah nilai laju erosi yang diperbolehkan per tahun. Nilai T (Tolarable Soil Erosion) perlu diketahui terlebih dahulu untuk mengetahui kelas kategori erosi pada semua lokasi pengukuran laju erosi.

Hasil penelusuran data sekunder diketahui bahwa jenis tanah yang dijadikan lokasi penelitian di PT. Indexim Utama adalah jenis tanah podsolik merah kuning. Kedalaman tanah efektif adalah kedalaman tanah yang diukur dimulai dari permukaan tanah hingga akar tanaman bisa menembus tanah terdalam. Jenis tanah podsolik merah kuning memiliki kedalaman tanah efektif sedalam 180 cm. Kemudian data berikutnya yang diperlukan untuk menentukan nilai T antara lain kedalaman tanah minimum, umur pakai tanah, dan laju pembentukan tanah. Menurut Purwowidodo (1999) kedalaman tanah minimum pada jenis-jenis tumbuhan kehutanan adalah 7,5 cm, umur pakai tanah dan laju pembentukan pada jenis tanah podsolik merah kuning adalah 29.000 tahun dan 97 tahun.

Tabel Nilai T

Jenis Tanah

Kedalaman Tanah Setara

Kedalaman Tanah Efektif

Umur Pakai Tanah

Laju Pembentukan Tanah

Nilai T (Ton/Ha/Th)

Podsolik Merah Kuning

180 cm

7,5 cm

29.000 th

97 th

97,006

Berdasarkan Tabel diatas, diketahui bahwa nilai T (Tolarable soil erosion) pada areal PT. Indexim Utama adalah sebesar 97,006 ton/ha/tahun. Hal ini dapat dijadikan informasi jika disuatu lokasi pengukuran erosi memiliki laju erosi bernilai kurang dari 97,006 ton/ha/tahun, maka lokasi pengukuran erosi tersebut tidak diperlukan suatu tindakan konservasi tanah. Laju erosi yang terjadi pada plot pengamatan lebih besar dari nilai T, maka diperlukan suatu tindakan konservasi tanah.

2. Laju Erosi

Berdasarkan penelusuran data sekunder diketahui bahwa jenis tanah yang dijadikan lokasi penelitian di PT. Indexim Utama adalah jenis tanah podsolik merah kuning. Kedalaman tanah efektif adalah kedalaman tanah yang diukur dimulai dari permukaan tanah hingga akar tanaman bisa menembus tanah terdalam. Jenis tanah podsolik merah kuning memiliki kedalaman tanah efektif sedalam 180 cm. Kemudian data berikutnya yang diperlukan untuk menentukan nilai T antara lain kedalaman tanah minimum, umur pakai tanah, dan laju pembentukan tanah. Menurut Purwowidodo (1999) kedalaman tanah minimum pada jenis-jenis tumbuhan kehutanan adalah 7,5 cm, umur pakai tanah dan laju pembentukan pada jenis tanah podsolik merah kuning adalah 29.000 tahun dan 97 tahun.

Tabel 10. Nilai T (Tolarable Soil Erosion)

Jenis tanah

Kedalaman tanah

setara

Kedalaman tanah

efektif

Umur

pakai

tanah

Laju pembentukan tanah

Nilai T

 

(Ton/Ha/Th)

Podsolik

merah

kuning

180 cm

7,5 cm

29.000 th

97 th

97,006

Berdasarkan data Tabel 10, diketahui bahwa nilai T (Tolarable soil erosion) pada areal PT. Indexim Utama adalah sebesar 97,006 ton/ha/tahun. Hal ini dapat dijadikan informasi jika disuatu lokasi pengukuran erosi memiliki laju erosi bernilai kurang dari 97,006 ton/ha/tahun maka lokasi pengukuran erosi tersebut tidak diperlukan suatu tindakan konservasi tanah. Laju erosi yang terjadi pada plot pengamatan lebih besar dari nilai T, maka diperlukan suatu tindakan konservasi tanah.

B. Laju Erosi

Pengukuran laju erosi pada PT. Indexim Utama dilakukan dengan menggunakan metode bak erosi. Metode bak erosi memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengukuran metode tongkat erosi, namun untuk membuat satu bak erosi diperlukan investasi yang lebih besar jika dibandingkan dengan metode tongkat.

Pengukuran laju erosi dengan menggunakan metode bak erosi dilakukan pada tiga  tempat, antara lain blok RKT 2016 , blok RKT 2017 (dibekas jalan sarad) serta  Bak Pemantau Erosi Permanen Sei Marah (di loa)

Jalan sarad diasumsikan dapat mewakili kegiatan pemanenan, karena jalan sarad merupakan salah satu penghubung antara kegiatan penebangan dengan TPN dan Loa untuk mengetahui keadaan diluar jalan sarad, maka dilakukan pengukuran di luar blok tebangan di setiap RKT berjalan sebagai pembanding. Hal ini dilakukan untuk dapat mengetahui perbedaan besar erosi yang disebabkan oleh perbedaan  lama waktu tebang, dengan asumsi blok tebang RKT 2016 dan RKT 2017 jalan saradnya telah tertutup oleh permudaan alam. Pengukuran erosi di kawasan ini dilakukan sebagai kontrol dari tegakan-tegakan hutan lainnya yang sedang atau telah dilakukan kegiatan pemanenan kayu. Sedangkan Bak Erosi Permanen sebagai kontrol keseluruahan areal

1. Laju Erosi di RKT 2016

Pengukuran di RKT 2016 pada bak pemantau erosi diketahui tingkat laju erosi berturut-turut sebesar 44,56; 42,91; 37,71; 26,50; 20,08; 19,26 dan 15,40 ton/ha/tahun masih berada dibawah ambang batas toleransi erosi yang diperbolehkan. Sedangkan dengan menggunakan perhitungan rumus konversi berat diketahui laju erosi sebesar 24,53; 23,16; 22,19; 21,50; 16,51; 16,16 dan 15,20 ton/ha/tahun.

Dari hasil tersebut diketahui bahwa berdasarkan indeks bahaya erosi (IBE) RKT 2015  masuk ke dalam kategori erosi Kelas Rendah. Berdasarkan kelas bahaya erosi (KBE) RKT 2016  masuk ke dalam kategori Kelas II (Ringan).Berikut merupakan data pengukuran data laju erosi pada RKT 2016 pada  tahun 2016 sampai 2022,  tersaji pada grafik berikut ini:

Grafik 4. Time Seris Pemantauan Laju Erosi RKT 2016 Nomor Petak 2 R

 

2. Laju Erosi di RKT 2017

Pada RKT 2017 pemantauan erosi dengan menggunakan metode bak erosi. Pengukuran metode bak erosi dilakukan di areal ini adalah untuk membandingkan antara tingkat kelerengan  8-15 % juga perbandingan dengan blok tebang RKT yang lama dan RKT baru ditinggalkan setelah kegiatan pemanenan kayu.

Hasil metode bak erosi menunjukkan bahwa laju erosi di RKT 2017 dengan penerapan sistem RIL dari Tahun 2018 sampai dengan 2022 diketahui  nilai  tingkat laju erosi sebesar 41,26;  35,50; 28,75; 26,82 dan 22,69 ton/ha/tahun masih berada dibawah ambang batas toleransi erosi yang diperbolehkan. Sedangkan dengan menggunakan perhitungan rumus konversi berat diketahui laju erosi sebesar 28,50; 23,26;  21,27; 20,86 dan 18,10 ton/ha/tahun.  Berikut merupakan data pengukuran data laju erosi pada RKT 2017 pada tahun 2022,  tersaji pada grafik berikut ini:

Grafik 3. Time Seris Pemantauan Laju Erosi RKT 2017 Nomor Petak 5 T

Dari hasil tersebut diketahui bahwa berdasarkan indeks bahaya erosi (IBE) RKT 2017 masuk ke dalam kategori erosi Kelas Rendah. Berdasarkan kelas bahaya erosi (KBE) RKT 2017  masuk ke dalam kategori Kelas II (Ringan).

 

3. Laju Erosi di Camp Seroja

Berdasarkan hasil pengukuran  bak erosi permanen diperoleh laju tingkat erosi berturut-turut pertahun sebesar  9,38; 6,14;  6,00; 5,73; 2,59; 2,50; 2,45; 2,41 dan 2,39 ton/ha/tahun dan dengan konversi berat diperoleh 2,91; 2,31; 2,03; 1,72; 1,52; 1,32; 1,02; 1,02 dan 1,00 ton/ha/tahun. Lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran. Berikut merupakan data pengukuran data laju erosi pada bak pemantau erosi permanen dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2022,  tersaji pada grafik berikut ini:

Grafik 6. Time Seris Pemantauan Laju Erosi Bak Pemantau Erosi Permanen

Berdasarkan  hasil pemantauan tersebut diketahui bahwa laju erosi pada seluruh satsiun pemantau erosi dai blok tebangan dan bak pemantau erosi permanen, laju tingkat erosei berada dibawah ambang batas toleransi erosi yang diperbolehkan, yaitu 97,006 ton/ha/tahun. Berdasarkan indeks bahaya erosi (IBE) secara keseluruhan  masuk ke dalam kategori rendah, sedangkan berdasarkan kelas bahaya erosi (KBE)  masuk ke dalam kategori  sangat ringan sampai ringan karena diketahui rata-rata tebal solum di areal PT. Indexim Utama adalah  > 90 cm.

Faktor yang Mempengaruhi Laju Erosi

1. Curah hujan

Secara langsung, hujan dengan intensitas yang tinggi dapat berpengaruh sangat nyata akan terjadinya proses erosi tanah. Menurut Arsyad (2000), ada tiga komponen karakteristik hujan yang berpengaruh terhadap erosi yaitu jumlah, intensitas dan distribusi hujan, lebih jelas dapat di lihat dalam laporan SPH tahun 2021 dan 2022.

PT. Indexim Utama mempunyai intensitas curah hujan yang tinggi dengan persebaran yang hampir merata sepanjang tahun, artinya tidak terjadi musim kemarau atau bulan kering yang panjang. Jumlah hari hujan rata-rata bulanan tertinggii dalam bulan Desember dan terendah pada bulan september. Maka dari itu, pengukuran curah hujan dilakukan dari bulan Januari hingga Desember sehingga diketahui besar curah hujannya.

2. Vegetasi

Selain curah hujan, penutupan berupa vegetasi juga sangat berpengaruh terhadap laju erosi. Jenis penutupan vegetasi yang mendominasi di PT. Indexim Utama adalah hutan alam dengan strata yang berlapis-lapis. Laju erosi yang berada di kawasan lindung adalah suatu contoh nyata bahwa hutan alam dapat meminimalisir laju erosi.

Saat terjadi hujan, suatu lahan yang tidak dilindungi oleh vegetasi dapat dengan sangat mudah tererosi. Menurut Rahim (2003), erosi bisa terjadi apabila intensitas hujan turun lebih tinggi dibanding kemampuan tanah untuk menyerap air hujan tersebut. Terjadinya erosi secara rinci bisa dijelaskan melalui tiga tahapan. Pertama, penghancuran agregat tanah dan pelepasan partikel. Kedua, pengangkutan tanah oleh aliran air. Ketiga, pengendapan tanah akibat aliran air tidak mampu lagi mengangkut tanah.

Berdasarkan hasil penelitian Holy (1980) dalam Santosa (1985) mengemukakan bahwa hutan dengan tajuk lebat, tumbuhan bawah yang baik, dan serasah yang tidak terganggu sangat mempengaruhi terjadinya aliran permukaan dan erosi. Pada keadaan hutan seperti itu aliran permukaan tidak lebih dari 10% dari total hujan dan tidak terjadi erosi.

Pada PT. Indexim Utama, khususnya di RKT 2010 TPTI telah dilakukan kegiatan pemanenan kayu. Pemanenan kayu idealnya dilakukan dengan berbagai perencanaan yang matang, dimulai dari peta pohon, perencanaan jalan sarad, dan lain-lain. Fakta di lapangan di PT. Indexim Utama hal ini baru saja dilakukan, pada areal lokasi yang telah dipanen memiliki keterbukaan sebesar 5,48 % atau seluas 547,99 %  m²/plot dengan panjang rata-rata 110,21 m/ha.  Sedangkan rata-rata keseluruhan petak tebangan luas keterbukaan sebesar 3,53 ha per petak dengan persentase 4,52 % (Rohim. A, 2011).

3. Topografi

Selain curah hujan dan vegetasi, faktor kelerengan juga sangat nyata mempengaruhi proses terjadinya erosi. Menurut Arsyad (2000), faktor-faktor topografi yang mempengaruhi besar kecilnya erosi dan limpasan permukaan ialah derajat kemiringan lereng lapangan dan panjang lereng, dengan kata lain erosi dan limpasan permukaan akan lebih besar pada tanah dengan lereng yang lebih curam dan lebih panjang. Dengan demikian, derajat kemiringan dan panjang lereng merupakan dua faktor topografi yang mempunyai peranan yang sangat penting terhadap kemungkinan terjadinya erosi. Erosi tidak menjadi masalah pada daerah datar, akan tetapi apabila daerah mulai miring maka masalah pencegahan erosi menjadi serius.

PT. Indexim Utama memiliki kemiringan lereng lapangan yang cenderung landai. Areal yang memiliki kelerengan lebih besar dari(9 – 15%) hanya sekitar

28.522 ha atau 54,35 % dari jumlah luasan PT. Indexim Utama. Dilihat dari segi kelas kelerengan, kelas lereng 8%-15% memiliki laju erosi terbesar kemudian semakin menurun pada kelas kelerengan 15% sampai diatas 40% dan laju erosi terendah adalah kelas kelerengan 0%-8%. Keragaman nilai diantara masing-masing kelas lereng disebabkan oleh panjang dan bentuk lereng pada setiap lokasi pengamatan. PT. Indexim Utama banyak terdapat kelas kelerengan  9%-15%, yaitu sebesar 28.522 ha atau 54,35% dari luas PT. Indexim Utama.

4. Tanah

Menurut Sjafi’i (1984), sifat tanah yang penting pengaruhnya terhadap permukaan erosi terhadap kepekaan erosi dan limpasan permukaan adalah tekstur, struktur, kandungan bahan organik, kesarangan, kapasitas lapang, tebal dan sifat horizon serta kadar air tanah.

Namun pada kegiatan di lapangan hanya beberapa sifat tanah yang diperhatikan. Lokasi pengamatan erosi di lapangan umumnya didominasi oleh jenis tanah ultisol. Jenis tanah ultisol memiliki kedalaman tanah yang efektif sedalam 180 cm dengan nilai laju erosi yang diperbolehkan sebesar 97,006 ton/ha/tahun. Melihat nilai laju erosi yang diperbolehkan pada jenis tanah podsolik cukup kecil, maka tanah ultisol di kawasan PT. Indexim Utama dapat dikatakan rawan fisik atau memiliki tanah yang rawan akan erosi.

5. Manusia

Menurut Anonim (1983), tingkat kerusakan tanah hutan ditentukan oleh:

  1. Cara dan alat eksploitasi yang digunakan.
  2. Sistem penanaman.
  3. Perusakan oleh penggembalaan, pencarian kayu bakar, kebakaran, dan lain lain.

 

Kerusakan tanah hutan PT. Indexim Utama umumnya disebabkan oleh kegiatan pemanenan kayu. Pemanenan kayu idealnya dilakukan dengan berbagai perencanaan yang matang, dimulai dari peta pohon, perencanaan jalan sarad, dan lain-lain. Peta pohon berguna dalam menentukan pohon yang sudah layak tebang, sehingga tidak terjadi kesalahan pemilihan pohon yang akan ditebang. Sedangkan perencanaan jalan sarad dibuat untuk meminimalisir kerusakan yang disebabkan oleh kegiatan penyaradan dan memudahkan kegiatan penyaradan. Fakta di lapangan di PT. Indexim Utama hal ini baru saja dilakukan, pada areal lokasi yang telah dipanen memiliki keterbukaan sebesar 5,48 % atau seluas 547,99 %  m²/plot dengan panjang rata-rata 110,21 m/ha.  Sedangkan rata-rata keseluruhan petak tebangan luas keterbukaan sebesar 3,53 ha per petak dengan persentase 4,52 % (Rohim. A, 2011).

Penebangan pohon sangat berpengaruh nyata terhadap keterbukaan lahan. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan Sukanda (1996), bahwa peranan faktor jumlah pohon yang ditebang berpengaruh nyata terhadap keterbukaan lahan. Semakin banyak pohon yang ditebang per satuan luas semakin luas pula keterbukaan tanah yang terjadi. Dengan demikian semakin banyak pohon yang ditebang semakin tinggi pula intensitas penyaradan yang mengakibatkan keterbukaan lahan semakin luas.

D. Strategi Penanggulangan Laju Erosi

Dalam rangka menanggulangi laju erosi, sudah banyak cara yang dipakai dan efektif untuk menanggulangi erosi yang terjadi. Namun sebelum menanggulangi erosi yang terjadi, ada beberapa faktor yang telah diketahui dapat memperbesar erosi di PT. Indexim Utama, yaitu belum adanya perencanaan yang matang. Faktor lainnya adalah tidak ada kehati-hatian pada saat proses penyaradan. Selain kedua faktor tersebut, tidak adanya proses monitoring setelah kegiatan pemanenan selesai juga memiliki andil yang cukup besar dalam proses terjadinya laju erosi.

Untuk menanggulangi laju erosi di PT. Indexim Utama, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu membuat peta pohon, perencanaan pembuatan jalan sarad, kemudian setelah kegiatan penyaradan selesai secepat mungkin melakukan proses perawatan hutan berupa crossdarain dan covercrop. Selain itu, operator traktor sebaiknya lebih berhati-hati dan menghindari areal yang curam saat melakukan kegiatan penyaradan. Selain sulit untuk melakukan kegiatan penyaradan, menyarad di areal yang curam juga dapat menyebabkan erosi bertambah besar.

Peta pohon dibuat dengan tujuan mengetahui secara pasti posisi pohon yang akan ditebang sehingga dapat dibuat perencanaan penaggulangan erosi. Dengan membuat peta pohon maka keterbukaan yang dihasilkan akan optimum sehingga laju erosi juga akan semakin mudah untuk dikendalikan. Selain peta pohon, tidak lupa teknik penebangan kayu juga seharusnya lebih disempurnakan karena pemanenan kayu yang benar dapat memperkecil dampak yang dihasilkan. Setelah peta pohon diketahui, maka perencanaan jalan sarad dibuat. Selain untuk memudahkan proses penyaradan perencanaan jalan sarad juga dapat meminimalisir areal yang terbuka akibat proses penyaradan sehingga laju erosi

dapat berkurang.

Perawatan hutan dalam menanggulangi laju erosi dapat mengkombinasikan antara membuat crossdrain dengan covercrop. Dengan membuat crossdrain maka erosi yang disebabkan oleh faktor kelerengan dapat diperkecil. Berdasarkan pengukuran metode bak erosi yang telah dilakukan terbukti bahwa crossdrain dan covercrop dapat menurunkan laju erosi. Crossdrain dibuat berupa tanggul-tanggul (sedetan)  di bekas jalan sarad setelah kegiatan penyaradan selesai dengan jarak tertentu. Hal ini dilakukan untuk mencegah laju erosi yang lebih besar setelah kegiatan pemanenan berakhir. Dapat dikatakan crossdrain yang ada di PT. Indexim Utama   sudah efektif, karena menurut Winderiaty (2008) crossdrain dapat menurunkan laju erosi sebesar 85,93% dari laju erosi tanpa crossdrain.

tinggi muka air sedimentrap pengendali tebing

Gambar Pengukuran Tinggi Muka Air               Gambar Sedimentrap                          Gambar Bangunan Pengendali Tebing

 

Pengukuran Debit Air

Debit aliran merupakan banyaknya air yang mengalir dalam satuan volume per waktu dengan satuan meter kubik per detik (m3/s). Debit aliran adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Debit aliran tersebut dipengaruhi dengan adanya siklus hidrologi, salah satunya yaitu hujan.

Pengukuran debit menggunakan alat pelampung pada prinsipnya sama dengan metode konvensional, hanya saja kecepatan aliran diukur dengan menggunakan pelampung.

Gambar Pengukuran Debit Air Menggunakan Metode Pelampung

Dari hasil pengukuran dengan metode pelampung/apung melalui proses perhitungan setiap seksi dengan rata-rata pengulangan sebanyak 3 kali setiap seksi didapatkan hasil bahwa sungai Malio diketahui memiliki besaran debit airnya sebesar 1,70 m3/detik dan sungai Mea diketahui memiliki besaran debit airnya sebesar 7,72 m3/detik.

Debit pada sungai-sungai tersebut tergolong tinggi. Tingginya debit aliran pada sungai tersebut dapat disebabkan oleh faktor iklim dan DAS. Faktor iklim meliputi banyaknya presipitasi dan evapotranspirasi. Saat musim hujan banyak terjadi presipitasi, sehingga debit alirannya pun bertambah karena volume air sungai bertambah yang disebabkan curah hujan yang tinggi. Sedangkan faktor DAS meliputi ukuran daerah aliran sungai dan medan sungainya itu sendiri. Faktor DAS yang meliputi ukuran DAS juga memberikan pengaruh terhadap besar kecilnya debit aliran di sungai tersebut.

 

indexim-map_resize.jpg
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday194
mod_vvisit_counterYesterday172
mod_vvisit_counterThis week366
mod_vvisit_counterLast week798
mod_vvisit_counterThis month2198
mod_vvisit_counterLast month3941
mod_vvisit_counterAll days1491427

We have: 16 guests online
Your IP: 35.174.62.162
 , 
Today: Apr 15, 2024