Nilai Konservasi Tinggi (NKT)

Cetak

Oleh Administrator Kamis, 29 November 2012 07:40

PT. Indexim Utama sebagai salah satu pemegang Hak Pengusahaan Hutan bekerjasama dengan TBI, TFF dan IDEAS Consultancy Services telah melakukan kegiatan identifikasi Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT) pada kawasan hutan alam produksi seluas 52.480 Ha, yang terletak di kelompok Sungai Mea-Sungai Luang, Kecamatan Purei, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah.


NKT 1.1. Kawasan yang Mempunyai atau Memberikan Fungsi Pendukung Keanekaragaman Hayati Bagi Kawasan Lindung dan/atau Konservasi

NKTMengingat posisi areal PT. IU berbatasan langsung dengan HL Gunung Lumut dan HL Lampeong, maka pada prinsipnya seluruh areal yang ada di dalam konsesi PT. IU merupakan NKT 1.1. Secara internal PT. IU telah menetapkan areal-areal lindung di dalam wilayah konsesinya dalam bentuk buffer zone HL Gunung Lumut dan HL Lampeong, kawasan sempadan sungai, KPPN, areal Kawasan Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT) yang digunakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat (hutan rotan masyarakat), serta kawasan tidak produktif berupa PUP dan Tegakan Benih. Luas keseluruhan areal perlindungan ini adalah 10.926 ha atau sekitar 20,82 % dari total luas areal unit pengelolaan. Hasil deliniasi kawasan NKT 1.1 dapat dilihat pada peta.

 

NKT 1.2.  Spesies Hampir Punah

NKTDi dalam areal IUPHHK PT. IU ditemukan beberapa jenis tumbuhan yang masuk ke dalam kategori Critically Endangered (CR) dalam RedList IUCN yang keseluruhannya merupakan kerabat meranti (Dipterocarpaceae). Spesies meranti tersebut adalah keruing (Dipterocarpus cornutus Dyer), keruing (Dipterocarpus grandiflorus Blanco), bangkirai (Hopea mengerawan Miq.), tengkawang daun lebar (Parashorea lucida (Miq.) Kurz), tengkawang (Shorea palembanica Miq.), dan berumbung (Shorea smithiana Sym). Sementara untuk satwa liar, tidak terindikasikan keberadaan satwa liar berstatus CR dalam RedList IUCN di dalam areal ini. Perkiraan luasanan Kawasan NKT 1.2 tersebut adalah sekitar 9.419 Ha.

 

 

NKT 1.3. Kawasan yang Merupakan Habitat bagi Populasi Spesies yang Terancam, Penyebaran Terbatas atau Dilindungi yang Mampu Bertahan Hidup (Viable Population)

NKTSecara umum, jenis vegetasi yang teridentifikasi di areal PT. IU adalah 161 spesies dari 46 famili, terdiri dari famili Dipterocapaceae sebanyak 13 spesies, selanjutnya famili Euphorbiaceae sebanyak 11 spesies, Leguminoseae 8 spesies dan seterusnya oleh spesies dari famili lainnya.  Berdasarkan hasil analisis, dari 161 spesies vegetasi yang ada, beberapa diantaranya merupakan jenis langka dan dilindungi.  Ada 6 (enam) spesies pohon yang masuk dalam kategori CR atau Critically Endangered (IUCN 2012).  Sedangkan untuk spesies pohon yang tergolong terancam (EN) terdapat 4 (empat) spesies pohon.  Untuk spesies pohon tergolong rentan (VU) terdapat 5 (lima) spesies.  Berdasarkan CITES terdapat 4 (empat) spesies tumbuhan yang masuk dalam Appendix II.  Sedangkan menurut PP No.7 terdapat 2 (dua) spesies pohon.  Mengingat hampir seluruh areal PT. IU terletak dalam zona dataran rendah dan dikelilingi oleh areal-areal berstatus HP, APL dan HPK, maka tidak mengherankan apabila areal PT. IU berpotensi menjadi areal refugia bagi semua jenis fauna, khususnya mamalia dan burung.  Berdasarkan kondisi tersebut dapat disimpulkan bahwa areal PT. IU, terutama hutan primer dataran rendahnya dan hutan-hutan di sepanjang sempadan sungai, merupakan habitat penting bagi populasi jenis terancam sehingga akan mampu bertahan hidup.  Perkiraan luasan  Kawasan NKT 1.3 tersebut adalah sekitar 7.753 ha.

 

NKT 1.4. Kawasan yang Merupakan Habitat Bagi Spesies atau Sekumpulan Spesies yang Digunakan Secara Temporer

NKT

Terdapat 13 spesies burung migran ditemukan di dalam dan sekitar areal PT. IU. Hampir seluruh jenis migran tersebut di atas sangat tergantung pada hutan dataran rendah, terutama hutan-hutan di pinggir sungai dan daerah yang menggenang. Dapat disimpulkan bahwa areal PT. IU, terutama hutan-hutan di sekitar sungai merupakan habitat penting bagi jenis-jenis burung migran. Perkiraan luas kawasan NKT 1.4 ini adalah sekitar 2.737 Ha.

 

 

 

NKT 2.1. Kawasan Bentang Alam Luas yang Memiliki Kapasitas untuk Menjaga Proses dan Dinamika Ekologi Secara Alami

NKTKunci utama dari pendekatan ini adalah untuk mengidentifikasi dan melindungi daerah inti (core area) dari lanskap. Daerah inti ditentukan berdasarkan ukurannya (> 20.000 ha) ditambah dengan daerah penyangga (buffer) yang ada di sekitarnya yaitu paling sedikit tiga (3) km dari daerah bukaan. Keberadaan hutan primer yang masih tidak terggangu di dalam wilayah pengelolaan PT. IU diperkirakan hanya ada seluas 8.671 ha. Sehingga, khusus untuk PT. IU, keberadaaan NKT 2.1 ini tidak ditemukan.

 

 

 

NKT 2.2. Kawasan Alam yang Berisi Dua atau Lebih Ekosistem dengan Garis Batas yang Tidak Terputus (berkesinambungan)

NKTAda dua jenis tipe ekosistem peralihan di dalam areal PT. IU, yaitu peralihan dari ekosistem hutan hujan dataran rendah - hutan sub-pegunungan, dan peralihan dari ekosisten hutan hujan dataran rendah - hutan kerangas. Kedua tipe ekosistem peralihan tersebut dipetakan pada Gambar 3-13 di bawah. Berdasarkan persebaran ekosistem hutan secara vertikal dan horizontal tersebut disimpulkan bahwa kawasan PT. IU mengandung NKT 2.2 seluas 1.171 ha.

Peta NKT 2.2 (Peralihan dari ekosistem hutan hujan dataran rendah - hutan sub-pegunungan, dan peralihan dari ekosisten hutan hujan dataran rendah - hutan kerangas)

 

NKT 2.3. Kawasan yang Mengandung Populasi dari Perwakilan Spesies Alami yang Mampu Bertahan Hidup

NKTBeberapa wilayah yang masuk kategori NKT 2.,3 seluas 10.819 ha. Diantaranya adalah keberadaan wilayah yang mengandung populasi predator tingkat tinggi dan jenis-jenis yang mempunyai wilayah jelajah yang cukup luas seperti macan dahan (Neofelis nebulosa) dan beruang madu (Helarctos malayanus), dan wilayah yang mendukung populasi yang memerlukan ruang yang luas dengan kepadatan rendah seperti keberadaan owa kalawat (Hylobates muelleri) yang ditemukan di hampir seluruh areal dan bekantan (Nasalis larvatus) yang ditemukan di sekitar Sungai Mea.

 

 

NKT 3. Kawasan yang Mempunyai Ekosistem Langka atau Terancam Punah

NKT

Berdasarkan analisis peta RePPProt ditemukan tujuh sistem lahan di dalam areal PT. IU, dimana keseluruhan sistem tanah tersebut, menurut HCV Toolkit Indonesia (2008) dikategorikan sebagai sistem lahan yang terancam. Selain itu, kenyataannya di lapangan, areal-areal yang statusnya terancam di dalam areal konsesi PT. IU, keberadaannya akan semakin terancam akibat keluarnya rencana kegiatan pertambangan dan pekebunan yang dikeluarkan Bupati/Kabupaten setempat. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa areal PT IU mengandung NKT 3 seluas 42.567 ha. Terlihat pada peta Pendekatan Ekosistem Melalui Land-system RePProT.


NKT 4.1. Kawasan Penting Sebagai Penyedia Air dan Pengendalian Banjir bagi Masyarakat Hilir

NKTEkosistem hutan di dalam unit pengelolaan PT. IU terletak pada lingkungan fisik makro yang rawan terhadap gangguan, khususnya jika dilihat dari aspek konservasi tanah dan air .  Berdasarkan daerah aliran sungai dan posisi kawasannya, hutan yang ada di dalam areal PT. IU memilki fungsi sebagai pengatur air atau regulator air melalui tiga aspek penting, yaitu : 1) tegakan pohon,  2) tanah hutan, dan 3) bentang lahan. Berdasarkan dokumen kajian ANDAL PT. IU (1999) dan informasi masyarakat, potensi banjir di wilayah ini sangat kecil kemungkinan terjadinya, mengingat HPH ini berada di daerah pegunungan yang bergradient besar.  Sehingga kawasan ini menjadi potensial, walaupun fungsi sebagai pengatur air dan pengendali banjir bagi wilayah-wilayah yang ada di sekitarnya berkurang karena ada proses produksi di dalamnya.  Delineasi kawasan NKT 4.1, yaitu seluas 10.077 ha terlihat pada peta.

NKT 4.2.  Kawasan yang Penting bagi Pengendalian Erosi dan Sedimentasi

NKTAreal NKT 4.2 adalah areal yang terdapat pada hutan atau vegetasi lain dalam kondisi baik tumbuh pada lahan yang memiliki potensi Tingkat Bahaya Erosi (TBE) yang berat, Hutan di dalam areal PT. IU yang dalam kondisi baik dan tidak tergangu dapat mengendalikan erosi tanah dengan cara menghasilkan serasah dan banyaknya tumbuhan bawah. Walaupun  berdasarkan hasil perhitungan GIS menunjukkan bahwa TBE di areal PT. IU masuk kategori sangat ringan sampai ringan, namun areal ini tetap potensial memiliki areal NKT 4.2 khususnya pada areal-areal berkelerengan di atas 40% yaitu seluas 3.307 Ha dan areal-areal di sepanjang sempadan sungai.

 

NKT 4.3. Kawasan yang Berfungsi Sebagai Sekat Alam untuk Mencegah Meluasnya Kebakaran Hutan atau Lahan

NKTAreal PT. IU berpotensi menjadi bagian dari lanskap yang menjadikan kawasan ini potensial sebagai sekat alam untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan dalam skala besar.  Ditambah lagi, bahwa areal PT. IU merupakan daerah berhutan yang memiliki curah hujan yang tinggi dan hampir merata sepanjang tahun, sehingga ancaman bahaya kebakaran hutan (forest fire hazard) di areal ini menjadi rendah.  Delineasi kawasan NKT 4.3, yaitu seluas 10.287 ha, tersaji pada peta hasil deliniasi kawasan NKT 4.3 di areal PT.IU

 

 

NKT 5.   Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting untuk Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Lokal

NKTBerdasarkan hasil wawancara, FGD dan studi dokumen menunjukkan bahwa masyarakat melakukan kegiatan pemanfaatan yang dikelola oleh perusahaan.  Kegiatan pemanfaatan hasil hutan tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.  Beberapa kebutuhan dasar yang dipenuhi dari dalam areal perusahaan diantaranya adalah terkait dengan pemenuhan sumber karbohidrat (padi ladang), sumber protein (ikan dan hewan buruan), sumber air yang berasal dari sungai, obat-obatan yang berasal dari tumbuhan obat dari hutan, buah-buahan (durian), dan pemanfaatan kayu (ulin, bangkirai, meranti, dan arau) dalam jumlah terbatas dan hanya untuk kebutuhan subsistensi. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa di areal PT. IU mengandung NKT 5 dengan luas 4.632 ha.

NKT 6. Kawasan yang Mempunyai Fungsi Penting untuk Identitas Budaya Komunitas Lokal

NKTDi dalam areal perusahaan terdapat sumberdaya hutan yang berhubungan dengan perilaku kolektif dan individu dari masyarakat lokal untuk memenuhi kebutuhan budaya. Areal PT. IU mengandung NKT 6 dengan luas 1.535 ha. Berdasarkan hasil wawancara dan FGD oleh team IDEAS Consultancy Services dengan masyarakat, tempat  keramat yang potensial bagi masyarakat Desa Berong, diantaranya :
a. Raung adalah tempat dimana tulang belulang nenek moyang di simpan.  Raung berada di dekat muara sungai antara Sungai Luang dan Sungai Kenyetan.
b. Sipung adalah areal kebun buah yang ditanam oleh nenek moyang terdahulu.  Lokasi Sipung ini berada di Sungai Kemensi.
Sedangkan bagi masyarakat Desa Muara mea ada banyak tempat yang dijadikan sebagai basis pelaksanaan upacara adat dan memiliki nilai sakral, diantaranya :
a. Sungai Mea atau Sungai Merah sebagai aliran lalu lintas menghantarkan “tiau”/ roh leluhur (arwah orang Kaharingan) ke hutan sakral Gunung Lumut melalui Gunung Peyuyan dan Penyenteau.  
b. Muara anak sungai Mea yang ke sebelas bernama “oleng menaang” sebagai tempat turunnya Liau/ roh orang meninggal yang dihantar dari daearah Kalimantan Timur, kemudian menelusuri mudik Sungai Mea hingga peristirahatannya ke Gunung Lumut.
c. Muara anakan sungai ke enam belas yang bernama : “Oleng Sayeu apar tana” sebagai tempat turunnya Liau/ roh orang meninggal dari daerah pantai Barito yang naik melalui sungai “Jaiz” di hilir desa Linon Besi I kemudian mudik Sungai Mea hingga peristirahatannya ke Gunung Lumut
d. Situs sakral “Doyes Ruran Tenayan” tempat penantian sementara Liau yang belum disucikan dengan upacara Gomek oleh ritual wara, Liau berhenti disitu untuk memakan ubi talas & berubah gaib menjadi batu yang membujur berbaris terlihat disaat sungai surut pada riam ke 19